SALMONELL THYPOSA (TIFUS ABDOMONALIS)

Pekanbaru(infobidannia), Tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Salmonela thiposa. Kuman ini biasanya hidup di dalam air. Kuman ini akan mati bila air dipanaskan hingga 100 derajat celcius. Apabila kuman ini masuk dalam jumlah besar ke tubuh maka seseorang yang daya tahan tubuhnya tidak baik (tidak fit), maka dapat terserang penyakit yang kemudian kita sebut Tipus.

Tipes atau thypus adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran darah yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B dan C, selain ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan makanan) dan septikemia (tidak menyerang usus). Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan, setelah berkembang biak kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa, masuk ke dalam pembuluh darah dalam waktu 24-72 jam. Kemudian dapat terjadi pembiakan di sistem retikuloendothelial dan menyebar kembali ke pembuluh darah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala klinis. Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus, tetapi dalam dunia kedokteran disebut TYPHOID FEVER atau Thypus abdominalis, karena berhubungan dengan usus halus di perut. Sering dilakukan Widal test yaitu test imunitas di darah yang ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi / paratyphi, yaitu kuman yang terdapat di minuman dan makanan kita yang terkontaminasi dengan tinja orang yang sakit tifus. Tes Widal ini melibatkan aglutinasi dari bakteri tifus ketika mereka dicampur dengan serum yang mengandung antibodi tifus dari individu yang memiliki demam tifoid; yang dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan Salmonella typhi dan S. paratyphi.” namun Test Widal hanya akan berguna untuk follow-up, terutama jaman dulu waktu mana belum ada antibiotika dan tifus bisa berlangsung 1 bulan atau lebih. Test akan berguna untuk melihat apakah titernya naik selama penyakit tersebut. Test Widal menjadi tidak berguna lagi karena obat antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari, sehingga tidak perlu follow-up. Tingginya titer (antibodi) juga sangat individual dan tergantung kemampuan tubuh kita membuat antibody. Jakarta dan Indonesia merupakan reservoir raksaksa kuman salmonella dan lainnya. Semua manusia di Indonesia pasti pernah kemasukan kuman salmonella melalui food-chain ini. Bila kebetulan jumlah kuman yang tertelan cukup besar mungkin akan timbul penyakit tifus yang terutama ditandai oleh demam berkepanjangan sebagai ciri khas. Namun tidak semua demam adalah tifus, karena sering keliru dengan demam berdarah Tifus perlu dicurigai bila demam berlanjut sedikitnya 6-7 hari. Juga demam tifus pada hari2 permulaan hanya ringan, tidak konstan, naik-turun, dan hanya setelah 5-7 hari akan tinggi menetap, disertai badan pegal dan sakit kepala, serta kadang2 mual dan diare ringan. Diagnosis tifus bisa dicurigai setelah demam sekitar seminggu ditambah gejala2 diatas. Secara statistik juga demam tanpa adanya gejala positif yang mengarah ke penyakit lain, kemungkinan tifus adalah yang paling besar di Jakarta jika ditopang oleh musim kemarau dan banjir yang membawa kuman salmonella.

Gejala-gejala tipes :

  • Panas badan yang semakin hari bertambah tinggi, terutama pada sore dan malam hari.
  • Terjadi selama 7-10 hari, kemudian panasnya menjadi konstan dan kontinyu.
  • Umumnya paginya sudah merasa baikan, namun ketika menjelang malam kondisi mulai menurun lagi.
  • Pada fase awal timbul gejala lemah, sakit kepala, infeksi tenggorokan, rasa tidak enak di perut, sembelit atau terkadang sulit buang air besar, dan diare.
  • Pada keadaan yang berat penderita bertambah sakit dan kesadaran mulai menurun.
  • Mual, muntah, Diare ringan
  • Sakit kepala yang berlebihan
  • Demam
  • Hilangnya nasfu makan
  • Perasaan tidak nyaman
  • ruam (tumbuh bintik-bintik) muncul pada dada bagian bawah dan bag. perut pada minggu kedua saat demam
  • Sakit pada bagian perut diikuti dengan diare
  • Berak berdarah
  • Lamban, lesu dan malas
  • Terlalu lelah
  • Lemah dan lesu
  • Mimisan atau hidung beradah
  • Kedinginan
  • Mengigau
  • Bingung
  • Gelisah
  • Mood tidak stabil
  • Kesulitan kosentrasi
  • Halusinasi.
Cara mencegahnya:
  • Jangan minum air yang belum dimasak (belum matang)
  • Bila ingin jajan di pingir jalan yang belum jelas apakah airnya dimasak atau tidak, yakinlah bahwa badan kita dalam keadaan yang fit sehingga daya tahan tubuh kita (leukosit) dapat menghancurkan kuman-kuman itu
  • Menjaga kebersihan peralatan makan
  • Menjaga daya tahan tubuh agar selalu fit dengan makanan, gizi seimbang, istirahat yang cukup, olah raga, rileks (tidak stress/tegang)
  • Untuk menghindari penyebaran kuman, Buang air besar sebaiknya pada tempatnya jangan dikali atau sungai
Cara Mengobatinya:
  • Berobat ke dokter untuk mendapat antibiotik siprofloksasin
  • tidak boleh jalan dan istirahat tidur di rumah.yang tepat serta obat-obatan yang lain
  • Makan makanan yang bergizi, namun yang lunak-lunak dan tidak berserat
  • Bila demam sangat tinggi, dapat dikompres dengan air hangat dan banyaklah minum air putih
  • jika opname akan diberi infus cefotaxime
  • Obat alami yang luar biasa mujarabnya adalah cacing tanah ( Genus Lumbriscus ) saya sendiri pernah sakit dan alhamdullilah bisa sembuh , ini karena di cacing tanah terdapat mikroorganisme simbiotic mutualism Streptomyces sp. yang menghasilkan antibiotik streptomisin
  • Antibiotic Streptomycin inilah yang menghempaskan Salmonella di usus halus tidak tahan / mati
  • Pengobatan penyakit yang menggunakan bahan alami telah banyak dilakukan di masyarakat, contohnya adalah cacing tanah Lumbricus rubellus dan Pheretima sp.
  • Kedua cacing tanah tersebut telah dipercaya oleh masyarakat dalam mengobati penyakit diantaranya penyakit tifus.
  • Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh cacing tanah Lumbricus rubellus dan Pheretima sp. terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vitro.
  • Metode yang digunakan untuk pengujian yaitu metode difusi agar dengan cakram kertas menggunakan pelarut aquades steril.
  • Cacing tanah yang telah dihaluskan kemudian dilarutkan dengan pelarutnya sehingga diperoleh konsentrasi larutan 5%, 10% dan 15% (bb/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan cacing tanah Lumbricus rubellus dan Pheretima sp. pada semua konsentrasi mempunyai daya hambat yang ditunjukkan dengan adanya daerah zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Berdasarkan pengolahan data menggunakan uji Kruskall-wallis didapat hasil bahwa antara larutan cacing tanah Lumbricus rubellus dan Pheretima sp. memiliki daya hambat yang berbeda secara signifikan. Larutan cacing Pheretima sp. pada konsentrasi 15%(bb/v) memiliki daya hambat yang lebih besar yaitu 1,9000 – 0,125 cm dibandingkan dengan daya hambat larutan cacing Lumbricus rubellus pada konsentrasi 15%(bb/v) yaitu 1,606 – 0,102 cm. Berdasarkan hasil tersebut, larutan cacing tanah mempunyai daya antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Kemampuan cacing tanah dalam menghambat pertumbuhan bakteri karena kandungan zat antibakteri yang terdapat pada cacing tanah. Kandungan tersebut yaitu protein yang sangat tinggi pada cacing tanah dan mikroba simbiotik Streptomyces sp. yang menghasilkan antibiotik streptomisin. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan oleh masyarakat dalam menggunakan obat berbahan alami.

About sitimaulidaniah

we thanks for share for everyone whos care about midwifery

Posted on 31 Mei 2011, in Keperawatan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: